14 Juni 2014

Topik : “Pembangunan Ekonomi dan Kesejahteraan Sosial”

Nantikan rilis dari kami mengenai debat Capres 15 Juli nanti.
Salam...

Posted on Sabtu, Juni 14, 2014 by si suar sair

No comments

7 Juni 2014


nungnga naeng bot be arikki
tokkin nai suda ma nag gogokhi
ho nama anak hasianku
naboi manjujung goarhi
hutaonton do marhoi-hoi
nang marsali nang manggade pe hu ae
asa sahat pinarsittami
tung boi hasea ho muse
i ale anak hasianku
tung burjuhon ma amang nasikkola i
bereng akka nahasea i
nasinuan tubu do nidapotnai
bereng au napuas paison nalea binaen ni pogoshi
jujung goarhi amang
iama so suda gogongki
sai sukaonku do pasikkolahon ho ale amang
molo hasea ho muse anggiat boi ho pangusandeanhi

Posted on Sabtu, Juni 07, 2014 by si suar sair

No comments

1 Juni 2014




Tepat 69 tahun lalu, Bung Karno mengucapkan kalimat tersebut dalam sidang I BPUPKI. Kalimat tersebut memuat kata "PANCASILA" yang menjadi dasar negara Indonesia. Sebuah kata luar biasa yang menjadi dasar negara Bangsa Indonesia. Atas latar belakang inilah mengapa 1 Juni ditetapkan sebagai Hari Lahirnya Pancasila.
Jika Anda mencari apa yang paling baik untuk dijadikan dasar negara?"
Maka dengan tegas saya menjawab, "Pancasila adalah yang Anda cari!"
Terbukti ketika Bung Karno memperkenalkan Pancasila dalam Sidang Kongres di Amerika Serikat, Bung Karno mendapat sambutan hangat dari para tokoh Amerika. Bahkan Bung Karno menawarkan Pancasila untuk diadopsi oleh berbagai Negara. Bisa diliha dari nilai-nilai yang dimiliki oleh Pancasila tersebut, Ketuhanan, Keadilan, Persatuan, Mufakat atau Demokrasi, hingga Kesejahteraan.
Ada satu nilai yang menjadikan Pancasila berbeda dan begitu spesial bila dibanding dengan dasar negara lainnya, yaitu Toleransi. Nilai ini terbukti mampu menyatukan seluruh rakyat Indonesia. Seperti yang Anda ketahui, Indonesia adalah negara dengan tingkat keanekaragaman yang paling tinggi dibanding negara lain. Indonesia mampu berdiri diatas perbedaan itu. Bila anda bukan orang Indonesia, Anda pasti akan bingung, heran dan merasa gila. Anda akan berpikir,
“Bagaimana mungkin orang yang berbeda suku bisa berjalan bersama?”.
“Bagaimana mungkin, orang yang berbeda agama bisa tidak saling membenci”.
Tapi itu tidak perlu anda bingungkan, lihat saja faktanya. Disini kami mampu hidup rukun, hidup bertetangga bahkan bekerja sama dalam satu tim tanpa mempersoalkan adanya perbedaan-perbedaan itu. Inilah yang menjadikan kami berbeda dengan negara lain.
Anda tidak Percaya?
Silahkan datang, Kami siap menyambut anda dengan toleransi kami…

Tapi jika Anda datang untuk mengganggu PANCASILA kami, jangan salahkan kami jika keramah tamahan kami berubah menjadi kemarahan yang luar biasa.
Karena Pancasila adalah Jiwa Kami...
Pancasila Harga MATI!!!



Salam…

Posted on Minggu, Juni 01, 2014 by si suar sair

No comments

12 Mei 2014

Pertama-tama ngucapin selamat malam dulu buat Yogya yang beberapa hari ini panas nya cukup membuat mahasiswa penghuni kos menjadi betah tinggal di perpustakaan. Selamat juga buat kawan saya yang beru melaunching his new blog tadi sore di perpustakaan.Semoga blognya diisi, jangan dibiarkan kosong seperti hati pemiliknya yang kosong.              
Kisah kali ini diambil dari kejadian yang baru saja terjadi, kira-kira 2 jam yang lalu. Saat itu, saya sedang makan di lesehan khas Jogja di Malioboro bersama seorang kawan. Kawan ini saya kenal di pelatihan BISMA dahulu dan merupakan mahasiswa di ITB. Kawan ini berkunjung ke Jogja dalam rangka kompetisi yang diadakan oleh ME, IKAMMA FEB UGM. Sebagai kawan yang baik dan menganut paham modal pergaulan, saya ajaklah kawan tersebut untuk sekadar berkeliling Jogja, khususnya Malioboro.  Setelah berkeliling sejenak dan merasa sedikit lapar. Kami pun singgah di sebuat warung makan lesehan yang berlaskan tikar di Timur Jalan Malioboro. Proses pemilihan tempat makan ini bukanlah hal yang mudah, sangat sulit karena menyangkut banyak pertimbangan khususnya yang berhubungan dengan kantong mahasiswa perantau.
Awal mulanya adalah ketika saya melihat salah seorang pedagang warung lesehan ini mengikat tali tenda ke pagar kantor pemerintahan di sekitar Jogja. Terlihat juga seorang satpam hitam-hitam didekatnya. Menit berselang, entah kenapa mereka tiba-tiba saling beradu mulut disertai dengan adu jotos bak atlet tarung drajat. Kejadian tetap berlangsung walaupun suasana warung lesehan ini cukup ramai.
                Yang saya sesalkan adalah mengapa kejadian ini terjadi di depan para wisatawan yang berada di Malioboro. Dan, disitu ada beberapa anak kecil yang menyaksikan kejadian yang tidak mendidik tersebut. Takutnya, akan berdampak buruk bagi mereka. Selain itu saya juga melihat ada beberapa keluarga wisatawan yang kebetulan makan, heran dan bingung melihat kejadian tersebut. Dari penampilannya sih, keluarga tersebut merupakan wisatawan yang sedang berkunjung menikmati Jogja. Tentu kejadian ini akan memberikan citra negatif kepada mereka. Bila mereka telah berulang kali ke Jogja dan melihat peristiwa tersebut mungkin mereka menganggap hal tersebut biasa karena telah mengetahui kota Jogja yang sebenarnya. Namun alangkah sialnya, jika mereka baru pertama kali datang ke Jogja dan langsung disuguhi kelakuan tidak menyenangkan tersebut. Ya, kesan pertama yang didapatkan adalah Jogja itu brutal, tidak cocoklah bila dijadikan kota wisata. Bisa jadi setelah mereka pulang ke asalnya, yang diberitahukan ke keluarganya, kerabatnya tentang Jogja bukanlah hal yang baik-baik, melainkan peristiwa yang tak baik tadi. Jogja jadi dicap sebagai kota yang tidak nyaman karena satu peristiwa itu. Saya kemudian teringat kisah setahun yang lalu, ketika kasus premanisme Jogja marak diberitakan di media televise. Imbasnya, saya sebagai perantau di Jogja, selalu ditanyakan oleh orang tua tentang Jogja, bagaimana perkembangannya diberi peringatan janga keluar-keluar malam. Kedua orang tua saya menganggap bahwa Jogja tidak aman lagi, padahal menurut saya, yang tinggal disini, Jogja tetaplah nyaman seperti biasanya. Tidak terganggu dengan berita-berita premanisme tersebut.

 Dan Jogja juga terkenal dengan tagline-nya yang mengatakan ’Jogja Berhati Nyaman.” Dikarenakan peristiwa semacam ini diplesetkan menjadi ”Jogja berhenti nyaman.”
                Sangat disesalkan memang bahwa hal sekecil ini dapat merusak citra Jogja. Padahal untuk membangun sebuah citra yang baik bukanlah hal yang mudah, perlu usaha keras dan komitmen dari semua pihak.  Biarlah Jogja tetap berhati nyaman. Nyaman bagi kami, warga asli dan nyaman bagimu, para pendatang.
Sebagai penutup, saya mengutip sebuah pepatah yang mengatakan, “Jangan Gara-gara Nila setitik, Rusak Susu Sebelanga.”

Matur Nuhun,

Jogja tetap Istimewa

Posted on Senin, Mei 12, 2014 by si suar sair

No comments

3 Maret 2014

Indofood Leadership Camp nantinya akan lebih sering disebut dengan ILC atau BISMA.
       
Perjalanan panjang menuju ILC dimulai dari masuknya sebuah sms. SMS tersebut berisi undangan untuk mengikuti interview BISMA (Beasiswa Indofood Sukses Makmur). SMS yang singkat, dan gak jelas. (kenapa gk jelas?) saya bisa berpendapat demikian karena dalam sms tersebut tidak ada tercantum Apa itu BISMA, siapa yang mengadakannya dan untuk apa itu? Dengan rasa kebingungan yang spesial dan ditambah kemampuan kepo saya yang bisa dikatakan diatas rata-rata, (kalau orang lain mungkin sering ngepo profil orang dari media sosialnya. Menurut saya itu hal biasa, saya juga bisa. Ya bisa, namun tidak biasa. Saya lebih senang untuk ngepo akun mahasiswa di portal kampusnya, kalau di UI misalnya ada namanya SIAKNG.) Berbekal kemampuan itu dan didukung oleh modem saya tercinta yang katanya anti lelet, dengan mudah saya bisa menemukan sedikit banyak info mengenai BISMA, mahkluk misterius itu.
Dari sedikit banyak info tersebut, dapat saya simpulkan bahwa BISMA itu merupakan beasiswa yang diberikan oleh PT. Indofood Sukses Makmur melalui Yayasan Karya Salemba Empat kepada mahasiswa 14 Perguruan Tinggi Indonesia. Nah, ILC itu merupakan program pelatihan kepemimpinan oleh Indofood tersebut. Saya pun teringat kalau dulu saya pernah mendaftar beasiswa Karya Salemba Empat, dan ditolak, (Mungkin di lain kesempatan akan saya ceritakan kisah panjang saya sebagai pemburu beasiswa yang bisa dikatakan tragis.) Karena saya pernah ditolak dan tidak diterima, perasaan bingung pun bergejolak di dalam dada. Aku kudu piye tweeps? 

        Jiwa auditor (masih menjadi cita-cita) saya pun keluar, saya tidak bisa begitu saja mempercayai SMS yang tidak sopan itu. Perjuangan pun mulai dengan menghubungi semua nomor kontak pengurus KSE UGM yang ada di HP Nokia saya, sms demi sms saya kirimkan untuk memastikan info tersebut. Balasan yang saya dapat cukup normatif, semua bilang bahwa saya datang aja ketika interview nanti. Semua jawaban menggantung. Karena merasa tidak mendapat infornasi yang mengenyangkan, surat elektronik pun saya kirimkan ke contact@karyasalemba4.org, namun sayang saudara-saudara tidak dibalas. (sedikit galau) 
Berbekal balasan-balasan tersebut akhirnya saya memberanikan jiwa dan raga untuk mengikuti inteview tersebut. Tepatnya, Sabtu 20 September 2013, di Farmasi UGM. Datanglah saya dengan setelan kemeja, jeans, dan motor pinjaman teman kontrakan. Kegiatan diawali dengan pemaparan mengenai BISMA dan ILC oleh perwakilan Indofood dan KSE. Seingat saya kemarin ada Pak Christian dan Pak Hengki yang memberi pemaparan sedikit mengenai ILC. Mendengar penjelasan beliau beliau ini, saya bukan semakin tertarik malah agak takut dan bimbang. "ILC ini nantinya akan memakan waktu kalian, nantinya kalian akan sering absen kuliah, jadi daripada nanti kalian lolos namun tidak menyanggupi persyaratannya lebih baik kalian pulang saja," sedikit kata dari Pak Christian yang menurut saya cukup tegas. Selain itu, disebutkan juga kalau interview akan berlangsung dalam Bahasa Inggris, membuat hati semakin berdebar-debar. (derita TOEFL kepala 4)

Bla bla bla. 
Singkat kata, akhirnya interview pun dimulai. Yang mendapat giliran pertama adalah lebih dahulu datang. Beruntung lah saya, karena dipanggil awal, yah sekitar kloter ke-4 lah. 

        Saya diinterview oleh seorang ibu yang baik hati dari Indofood. Seperti interview umumnya, kebanyakan pertanyaan seputar diri sendiri dan tidak berbahasa Inggris, ya tidak berbahasa Inggris. (Keberuntungan saya yang kedua), padahal sesaat sebelum saya diwawancarai, ketika Ibu tersebut sedang asik membaca berkas saya, saya menoleh kesamping dan mendengar percakapan berbahasa Inggris, dan yang mewawancarainya kalau tidak salah Pak Christian. (pengen rasanya langsung keluar dan lari dari kenyataan itu)
Salah satu pertanyaannya adalah mengenai cita-cita. Selain itu diperpanjang dan dikorelasikan lah motivasi, guna ILC nanti buat si mahasiswa, dan motivasi kuliah. Interview pun ditutup dengan ucapan terimakasih saya kepada Ibu tersebut. Kalau dihitung-hitung, interview tersebut hanya berlangsung sekitar 20 menit, cukup sebentar.

        Kemudian, keluarlah saya dengan perasaan yang galau. Galau, ntah apa hasilnya. Saya pun berpasrah diri kepada Tuhan, saya percaya apapun yang terjadi, itulah yang terbaik bagi saya.
Oh iya, pada saat itu, saya ijin langsung pulang karena jam 1 siang ada kegiatan makrab untuk menyambut kawan-kawan baru dari angkatan 2013. 

Hari demi hari berlalu. Dilewati dengan doa kepada Tuhan agar diberi kesempatan bergabung dengan keluarga Karya Salemba Empat. 

Akhirnya pengumuman pun keluar di web KSE yang dishare lewat grup FB SINKOM.
Hasilnya....

Posted on Senin, Maret 03, 2014 by si suar sair

No comments

2 Maret 2014

                Hari ini adalah pertemuan pertama bagi kami, supertentor dan supersiswa, dalam kegiatan SUPERBEDJO 2014. Saya bisa bertemu dengan kawan-kawan KSE UGM setelah agak sekian lama tidak bertemu. 
(FYI : Pertemuan terakhir di Stasiun Tugu, 15 Februari 2014, pada saat pemulangan para calon calon pemimpin muda setelah di bina dan dilatih di kawah candradimuka Akademi Militer Lembah Tidar, Magelang.)

Hal ini cukup menciptakan senyum untuk menyambut hari indah ini....


Posted on Minggu, Maret 02, 2014 by si suar sair

No comments

28 Desember 2013

            17 Agustus 1945 merupakan tanggal paling bersejarah bagi bangsa Indonesia. Ya, hari itulah tanggal dimana Indonesia merdeka. Sejak saat itulah Indonesia berhak meraih kendali penuh atas seluruh wilayah bagian negaranya. Sebelumnya, Indonesia telah bertahun-tahun dijajah oleh bangsa asing. Rakyat disiksa dan hidup sangat menderita akibat perilaku pera bangsa penjajah tersebut. Penjajahan di Indonesia dimulai dengan kedatangan bangsa Portugis ke pelabuhan-pelabuhan di pantai utara Jawa, setelah itu disusul dengan kedatangan bangsa Spanyol tahun 1521 di Tidore. Babak baru penjajahan Indonesia dimulai dengan kedatangan Belanda tahun 1619, pada saat itu VOC terbentuk dan menjadi sumber penderitaan bagi rakyat Indonesia. kemudian diakhiri dengan datangnya Jepan tahun 1942.
“Perjuanganku melawan penjajah lebih mudah, tidak seperti kalian nanti. Perjuangan kalian akan lebih berat karena melawan bangsa sendiri.”
Inilah pesan yang disampaikan Ir. Soekarno kepada rakyat Indonesia. Saat ini, Indonesia belum sepenuhnya merdeka. Memang penjajahan seperti puluhan tahun yang lalu tidak terjadi lagi. Namun, Indonesia masih memiliki beberapa masalah krusial yang bila tidak ditangani dan diselesaikan bisa memberi efek bola salju.
Intoleransi SARA.
Beberapa waktu lalu, media Indonesia gencar-gencarnya menghadirkan masalah intoleransi dalam kehidupan beragama. Media menjadikan hal ini sebagai headline. Pagi, siang, sore, hingga malam berbagai dialog interaktif dengan narasumber dari berbagai pihak dihadirkan silih berganti membahas permasalahan tersebut.
Sebenarnya masalah ini tidaklah perlu terjadi. Bila pemahaman konsep “Bhineka Tunggal Ika” yang merupakan semboyan Indonesia ditanamkan kedalam hati setiap masyarakat Indonesia. Tak bisa dipungkiri bahwa Indonesia dibangun diatas perbedaan-perbedaan tersebut. Banyak Negara berbondong-bondong meneliti kehidupan beragama di Indonesia. Ya, mereka iri sekaligus bingung dan heran bagaimana mungkin sesuatu yang berbeda bisa berjalan bersama? Berjalan tanpa ada gangguan. Hal ini tentu saja menjadi kebanggaan bagi bangsa Indonesia. Sebaiknya, Indonesia itu menyadari anugrah dalam perbedaan ini. Perbedaan ini menjadikan bangsa ini solid, tak terpecahkan.
 Dengan semboyan “Bhineka Tunggal Ika” yang melekat di hati masing-masing, masyarakat sebaiknya menyadari perbedaan yang terjadi merupakan sebuah anugrah yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Tak bisa dipungkiri bahwa Indonesia dibangun diatas perbedaan-perbedaan tersebut. Banyak Negara berbondong-bondong meneliti kehidupan beragama di Indonesia. ya, mereka iri dan heran bagaimana bisa sesuatu yang berbeda bisa berjalan bersama? Berjalan tanpa ada gangguan. Hal ini tentu saja menjadi kebanggaan bagi bangsa Indonesia. Penanaman nilai-nilai toleransi sebaiknya ditanamkan sejak dini, di bangku-bangku sekolah. Sehingga ketika ada permasalahan dapat diselesaikan dengan bijak, tidak hanya dari satu sisi saja.

Korupsi.
Menurut Kemdagri, 309 kepala daerah terlibat kasus 309 kepala daerah terlibat proses hukum terkait kasus korupsi, baik berstatus tersangka, terdakwa maupun terpidana. Di lain sisi, Sekertaris Jendral Transparency International Indonesia (TII), Dadang Sasongko mengatakan bahwa sektor kepolisian, kejaksaan, peradilan, dan bisnis menjadi sektor yang paling banyak dipersepsikan sebagai ladang korupsi. Ironi memang, pihak yang seharusnya menjadi penegak keadilan malah menjadi lahan subur bagi perkembangbiakan korupsi. Hal ini diperparah dengan ditangkapnya Aqil Muchtar, ketua Mahkamah Konstitusi yang dijadikan tersangka kasus  praktik politik transaksional dalam proses pemutusan sengketa pilkada Bupati Gunung Mas.
Korupsi merupakan bahaya laten bagi kehidupan bangsa Indonesia. Efek yang timbul akibat korupsi sangat parah. Biaya kesejahteraan masyarakat yang dikumpulkan dari pajak-pajak masyarakat malah digunakan untuk kepentingan mereka-mereka yang serakah akan harta-harta duniawi. Kekayaan yang melimpah ternyata tidak memberikan efek apa-apa bagi kemajuan dan kemandirian bangsa. Konon, pendapatan Negara bila dibagikan kepada rakyat, seluruh rakyat akan mendapat Rp 20 juta perbulan. Bisa dibayangkan efek positif dari pendapatan tersebut. Tidak ada lagi yang namnya busung lapar, pemadaman listrik bergilir, putusnya jalan yang berakibat terhambatnya pengiriman kekayaan alam baik dari maupun ke daerah. Selain itu, pendidikan yang merupakan salah satu cita-cita Negara sesuai Pembukaan Undang-undang Dasar 1945 tidak lah hanya sekadar 9 tahun saja. Dengan pendapatan tersebut, putra-putri Indonesia bisa memperoleh tingkat pendidikan sampai tingkat universitas. Dan pulang ke daerah untuk mengembangkan daerahnya masing-masing.
Namun hal itu tidak akan terjadi akibat keserakahan para pejabat yang melahap habis semua potensi kekayaan Indonesia. Potensi pendapatan Indonesia sebesar Rp 7.200 triliun hilang, raup ditelan para koruptor sampah tersebut. Teringat akan suatu kalimat dari Mahatma Gandhi, pemimpin spiritual India, yang mengatakan,“Bumi ini cukup untuk memenuhi kebutuhan kita semua, namun tidak cukup untuk memenuhi keinginan segelintir kecil manusia yang serakah,” Mereka, para koruptor inilah yahang disebut dengan segelintik kecil manusia yang serakah, yang tidak mengenal kata puas.
Perusakan Lingkungan
Kurangnya kesadaran terhadap pelestarian lingkungan merupakan salah satu penyebab kerusakan lingkungan. Sampah merupakan perusak lingkungan paling kecil. Banyak masyarakat tidak kunjung sadar akan bahaya sampah yang dibuang ke kali/sungai. Ketidakpedulian ini semakin menjadi dengan kurangnya peran pemerintah dalam sosialisasi penanganan sampah kepada masyarakat. Masyarakat menjadi sadar ketika bencana datang. Banjir yang datang menggenangi menyebabkan kerugian material bagi masyarakat, mulai dari harta sampai korban jiwa akibat terseret arus banjir.
Selain itu, perusakan hutan merupakan hal yang paling disayangkan untuk terjadi. Dalam kurun 12 tahun terakhir, bumi telah kehilangan 2,3 juta km2 wilayah hutannya. Diperperah dengan kerusakan hutan di Indonesia meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan dengan jumlah penggundulan hutan per tahun yang mencapai 20.000 kilometer pada 2011 dan 2012. Kerusakaan ini terhadi karena lebih memerhatikan kepentingan ekonomi dibanding kepentingan ekologi. Sebagai contoh, pembabatan hutan untuk pembukaan lahan baru guna ditanami sawit. Tak bisa dipungkiri memang berapa besar keuntungan yang diperoleh atas hasil panen sawit tersebut. Namun, bila dilihat dalam jangka panjang, kerugian justru lebih besar. Dampak yang paling terlihat adalah adanya potensi bencana. Banjir disaat musim hujan dan kekeringan saat musim kemarai menyebabkan penderitaan bagi masyarakat kecil.

Alangkah baiknya bila kita menyadari bahwa bumi ini diciptakan untuk kita titipkan ke anak cucu dengan kondisi yang baik. Kenapa malah menitipkan bencana bagi anak cucu. Sebaiknya pemerintah juga memperketat aturan mengenai hak pengelolaan hutan untuk menciptakan kondisi yang baik di masa kini maupun masa mendatang.

Esai ini disertakan untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh Karya Salemba Empat
A.A
 

Posted on Sabtu, Desember 28, 2013 by si suar sair

No comments