Tampilkan postingan dengan label OPINI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label OPINI. Tampilkan semua postingan

1 Oktober 2014

Hari ini diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Hari ini mengacu pada 1 Oktober 1965 yakni peristiwa kudeta pemerintahan Bung Karno oleh PKI yang beraliran komunis. Terlepas dari benar tidaknya sejarah tersebut, Gerakan ini berhasil ditumpas dan menjadi saksi bahwa Pancasila telah selamat dan menang atas komunisme di Indonesia.
                Bila dikaitkan dengan peristiwa sekarang, apakah Pancasila masih menjadi pemenang di rumahnya sendiri? Ataukah Pancasila sudah tidak sakti lagi?
Kalaulah kita coba melihat kondisi yang terjadi saat ini, masih pantaskah kita berteriak Kesaktian Pancasila?

1.       Ketuhanan Yang Maha Esa
Fungsi Agama sebagai kontrol atau pengawas perilaku manusia tidak berjalan baik. Bahkan Agama yang baik dan suci itu dijadikan alat untuk menindas kelompok agama lain. Toleransi Nol yang ditunjukkan oleh kelompok minoritas yang menyebut diri sebagai kelompok mayoritas sangat-sangat mencederai sila ini.

2.       Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab
Keadilan merupakan perlakuan adil terhadap hak dan kewajiban antar warga Indonesia. Kesewenang-wenangan jelas masih terlihat di negeri ini. Lagi-lagi adanya kelompok yang menyatakan memiliki derajat yang lebih tinggi dengan kelompok lain sehingga terjadi perampasan hak kelompok tersebut.
Atau kemanusiaan yang beradab? Kemanusiaan yang berjalan atas dasar etika, nilai dan norma. Tidak sedikit kelompok yang menghina bahkan merendahkan kelompok lain.
Membela kebenaran tidak lagi ditemukan. Membela yang bayar? Itu sudah pasti.

3.       Persatuan Indonesia
Indonesia milik kelompok A! Indonesia milik kelompok B! Inilah yang terjadi. Bhineka Tunggal Ika hanya semboyan.
Musuh Indonesia bukan lagi dari negara luar, melainkan bangsanya sendiri.
Rela berkorban untuk bangsa dan negara? Jangan harap. Untuk kelompok sendiri? Tentu

4. Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan, dalam Permusyawaratan Perwakilan
Musyawarah untuk kepentingan bersama? Omong kosong! Yang ada adalah Musyawarah untuk kepentingan kelompok, partai, golongan tanpa menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran, harkat dan martabat manusia.

5.       Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Darimana bisa disebut adil kalau hak-hak rakyat masih dirampas oleh koruptor-koruptor diastas sana? Trias Politica sudah berubah menjadi Trias Corruptica. Bersama kita menindas yang lemah.

                Sekali lagi coba kita renungkan. Dengar dan cermati!
Apakah masih pantas kita sebut Kesaktian Pancasila ketika kelima sila tersebut sudah dikhianati dan ditinggalkan?
Mungkin tulisan ini bukanlah tulisan yang baik. Tulisan yang baik adalah tulisan yang memberikan solusi dalam setiap kisah-kisahnya bukan sekadar kritik.  Saya hanya berharap tulisan ini dapat mendorong kawan-kawan pembaca untuk lebih peduli terhadap eksistensi kelima sila Dasar Negara ini dalam kehidupan kawan masing-masing. 
Garuda Pancasila, akulah pendukungmu!
Patriot Proklamasi, Sedia Berkorban Untukmu!
Pancasila Dasar Negara,
Rakyat Adil Makmur Sentosa!
Pribadi Bangsaku,
Ayo Maju-maju!
Ayo Maju-maju!
Ayo Maju-maju!

Referensi ;
Pancasila, Kedutaan Besar Indonesia Den Haag

 Oh iya, tepat hari ini juga diadakan pelantikan Anggota DPR-DPD. Dan dimalam ini, mereka anggota dewan yang terhormat, kembali mencederai Pancasila. Proses Pemilihan Pimpinan hanya berpihak kepada kepentingan golongan, terkotak-kotak pada masing-masing kubu dan saling serang seperti tidak mengenal yang namanya etika.


Posted on Rabu, Oktober 01, 2014 by si suar sair

No comments

19 Agustus 2014

Silahkan baca dan pahami kisah di bawah ini.          


         Disalah satu daerah, ketika sedang berlangsung Upacara Peringatan HUT Kemerdekaan RI ke- 69, tiba-tiba hujan turun sangat deras. Bagaikan air yang tersembur dari tanki mobil pemadan kebakaran. Semua peserta upacara dilapangan basah kuyup, kecuali inspektur upacara yang berdiri dipodium kehormatan dan para pejabat maupun orang-orang penting yang berada di Tribun Kehormatan. Mereka aman, tidak kena hujan.

         Sebagian besar peserta yang berbaris dilapangan tempat upacara, dengan pakaian yang telah basah kuyup berhamburan, berlari keluar dari lapangan. Masing-masing orang mencari tempat yang terlindung dari curah hujan untuk berteduh. Namun sebagian lagi tetap bertahan berdiri, berbaris meskipun pakaian dan tubuh mereka basah kuyup di guyur air hujan.
  • Bisakah kita mengatakan bahwa mereka peserta upara yang tetap bertahan dilapangan mengikuti upacara sampai selesai meskipun dengan tubuh basah kuyup dan ada pula yang menggigil, gemetar kedinginan, adalah orang-orang yang memiliki jiwa patriotisme dan rasa nasionalisme yang tinggi ?. Atau sebaliknya, bahwa mereka sesungguhnya adalah sekumpulan orang-orang penakut yang tolol?

  • Lalu bagi mereka yang lari berhamburan mencari tempat berteduh, bisakah kita anggap mereka sebagai orang-orang yang tidak punya jiwa patriotisme dan kurang mencintai tanah air-nya? Atau sebaliknya, bahwa merekalah sesungguhnya orang-orang berani yang telah merdeka dalam hal menentukan sikap?

  • Bagaimana dengan inspektur upacara yang berdiri aman dipodium kehormatan yang beratap, dia tidak kena air hujan?. Lalu bagaimana pula dengan para peserta upacara yang duduk tenang-tenang di tribun yang beratap sehingga mereka terlindung dari hujan, tidak basah kuyup ? Apakah jiwa patriotisme dan rasa nasionalisme mereka tinggi ?, 

Selamat HUT Kemerdekaan RI-69. Merdeka untuk jadi orang cerdas. Merdeka untuk tidak sakit masuk angin dan demam. Merdeka !!!      
_____________________poltong@yahoowu.com

Posted on Selasa, Agustus 19, 2014 by si suar sair

No comments

18 Agustus 2014


 
"Selamat datang Gamada, Selamat datang di kampus kerakyatan, Universitas Gadjah Mada…"

Kawan-kawan sudah menyandang predikat Maha, tetaplah berperilaku dalam idealisme dan  integritas tinggi. Tidak usah tiru senior-senior jenius kalian yang kini menyandang predikat “TAHANAN KPK.” 

Mengutip quotes Tan Malaka, “Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda.”  Kalau masih mahasiswa saja sudah melawan idealisme kalian, apalagi yang bisa kalian banggakan?
  
Pancasila Jiwa Kami,
Bakti untuk Negeri,
UGM bersatu,
Bangkitlah Nusantaraku

Salam.

Posted on Senin, Agustus 18, 2014 by si suar sair

No comments

1 Agustus 2014


The only rock I know that stays steady, the only institution I know that works is the family. ~ Lee Iacocca
Families are the compass that guide us. They are the inspiration to reach great heights, and our comfort when we occasionally falter. ~ Brad Henry 
         Tiga minggu sudah liburan ini berjalan, dan hari ini hari terakhir dimana aku bisa merasakan indahnya kekeluargaan itu.

       Walaupun bukan bersama Ayah dan Ibu, tapi aku masih bisa merasakan indahnya kebersamaan dalam sebuah keluarga.

Dan Hari esok menanti

Dia menunggu ku untuk pulang ke perantauan untuk memperjuangkan cita-cita yang akan kupersembahkan untuk keluarga ini.
Terimakasih Jakarta, terimakasih untuk kebersamaan ini.
       
       Dan Selamat datang Jogja, kota perjuangan.

       Senang kita bisa jumpa Lagi.

Posted on Jumat, Agustus 01, 2014 by si suar sair

No comments

8 Juli 2014


     

        Malam ini merupakan malam panjang dan menegangkan. Malam panjang karena esok pagi pesta demokrasi 5 tahunan akan dilangsungkan. Menegangkan karena malam ini banyak petugas yang tidak tidur untuk mengamankan persiapan untuk besok. Mulai dari pihak Kepolisian, TNI, petugas KPU, Bawaslu hingga masyarakat turut serta mensukseskan pesta ini.
Ada kisah menarik yang mewarnai malam seperti ini, yaitu kisah serangan fajar. Biasanya bila malam tiba, orang-orang akan menutup pintunya untuk  menghalau dinginnya si angin malam. Namun tidak demikian di negeri si Jaultop. Banyak orang membuka pintu lebar-lebar untuk menunggu datangnya tamu. Tamu disini adalah para Tim Sukses calon yang bertanding di Pemilu. Tamu ini akan bersilaturahmi dan berkampanye di pagi  hari menjelang pemungutan suara. Yang ditunggu-tunggu bukanlah si Tamu yang jualan dengan visi-misi calonnya, tapi sejumlah uang yang datang bersama si Tamu tersebut. Bagi sebagian kecil masyarakat di negeri itu, inilah berkah Pemilu. “Kami mah pinginnya yang nyata kayak gini mas, ada uang ada barang,” ujar tetangga Si Jaultop. Ya namanya, serangan fajar.
            Lain lagi cerita dari negari si Maruap. Kisah ini terjadi ketika pemilihan Walikota. Sang calon saat itu memberi voucher senilai Rp 300.000. Voucher ini akan baru bisa ditukarkan jika calon tersebut menang. Hasilnya si calon tersebut menang, ntah memang karena kemampuannya dan prestasinya yang bagus atau karena voucher tadi. Kemenangan ini awalnya diwarnai dengan sukacita dan harapan cairnya voucher itu. Ibu-ibu mulai berhitun berapa yang akan dikantongi. Bayangkan aja, dalam 1 keluarga biasanya memegang 3 voucher, dari Ayah, Ibu, dan 1 anak. Dan bila dikalikan bisa mengantongi Rp 900.000 dalam sekejap mata. Semua berandai-andai dan merencanakan akan dikemanakan uang tersebut. Tapi apa daya, bak pepatah habis manis sepah dibuang, sang walikota yang pernah berjanji tiba-tiba lupa. Yang kasihan ya si Tim Sukses, dikejar-kejar warga. Sekali lagi, habis manis sepah dibuang.
            2 kisah diatas hanyalah sebagian kecil dari kisah-kisah yang mewarnai Pesta demokrasi ini. Masih banyak kisah lain, yang kalau diceritakan pohon-pohon di hutan tidak akan mencukupi untuk dijadikan kertas. Huehuehue…
            “Semoga rakyat Indonesia sudah cerdas dalam memilih, gk perlulah itu money politics. Kejadian di negeri kami jangan sampai terulang di negeri Indonesia. Sayang kalau negara kalian itu rusak karena demokrasi yang gagal.” – Jaultop, warga biasa,  korban money politics


“Lebih baik menulis jadi sampah, dari pada tidak menulis karena akan jadi sampah dipikiran. Dan lebih baik jadi mahasiswa menulis jelek dari pada jadi mahasiswa jelek karena tidak menulis.”- Prof. Mubyarto, dengan sedikit pengubahan.

Posted on Selasa, Juli 08, 2014 by si suar sair

No comments

7 Juli 2014


Posted on Senin, Juli 07, 2014 by si suar sair

No comments

23 Juni 2014

                Seorang teman pernah bercerita. Saat itu dia sedang berkunjung ke Universitas Riau di Pekanbaru. Terdapat sebuah rumah sakit jiwa tak jauh dari kampus tersebut, jadi bisa dikatakan tinggal di sekitar orang yang sakit jiwa. Suatu ketika, dia bertemu dengan pasien rumah sakit tersebut. Pasien tersebut bertanya, “Sudah berapa lama Pak sakitnya?” Teman tersebut heran dan bingung, “Ini mereka yang sakit, kenapa saya yang dituduh sakit?”
                Bukankah hal ini juga terjadi pada kita kawan-kawan?
                Ketika semua orang melakukan kesalahan dilingkungannya, sementara ada satu orang tidak. Namun justru si satu orang tersebutlah yang dikatakan orang yang jelek, buruk. Dikatakan sok suci, sok benar. Hal-hal itu dikatakan wajar, bahkan ketika ada yang mempertanyakan justru disuruh untuk memakluminya.

                Hal ini juga terjadi di lingkungan kampus. Kawah Candradimuka tempat intelektual muda digembleng. Lingkungan kampus yang seharusnya bersih kini tercoreng dengan berbagai perbuatan yang tidak pantas. Simple saja, TITIP ABSEN. TA saat ini bukanlah hal yang memalukan.  Dianggap suatu kewajaran, bahkan terang-terangan minta di TA-in dan dengan bangganya memberitahukan kepada orang lain kalau pernah melakukan tindakan tidak terpuji itu.  Dimana lagi rasa malu itu??

                Disini saya bukanlah orang yang sepenuhnya berintegritas. Tapi saya menjunjung tinggi dan berkomitmen tinggi untuk mengedepankan integritas dalam setiap kegiatan saya. Ini tekad saya. Silahkan pukul, tampar dan maki, jika saya melakukan perbuatan yang tidak terpuji. Saya tidak akan marah, saya akan memeluk anda dan mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas teguran kerasmu itu kawan.
Dan Saya  berpesan kepada kawan-kawan mahasiswa, junjung terus integriitas dan idealisme mu kawan-kawan. Janganlah terbawa arus keburukan-keburukan dunia itu. Jadilah mahasiswa yang berada di jalan yang benar. Jangan membiasakan yang salah kawan-kawan.

Ada suatu quotes yang mengatakan, “Saat ini orang-orang berada terlalu kekanan, sehingga ketika saya ditengah, mereka mengatakan kalau saya ini kiri.”
Apa yang bisa dilakukan? Ngikut dengan mereka yang kekanan? Ataukan tetap ditengah menjaga nilai-nilai dengan konsekuensi dianggap sebagai orang jelek?

Ijinkan saya mengutip kata-kata dari Tan Malaka. Beliau pernah berkata, “Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda.”
Jika idealisme kawan-kawan hilang, kekayaan apa lagi yang bisa kalian banggakan?

Terima kasih

Salam



Sedikit penutup, seperti yang biasa saya letakkan di bawah tulisan sederhana saya,
“Lebih baik menulis jadi sampah, dari pada tidak menulis karena akan jadi sampah dipikiran. Dan lebih baik jadi mahasiswa menulis jelek dari pada jadi mahasiswa jelek karena tidak menulis.”
- Prof. Mubyarto, dengan sedikit pengubahan.

Posted on Senin, Juni 23, 2014 by si suar sair

No comments

7 Juni 2014


nungnga naeng bot be arikki
tokkin nai suda ma nag gogokhi
ho nama anak hasianku
naboi manjujung goarhi
hutaonton do marhoi-hoi
nang marsali nang manggade pe hu ae
asa sahat pinarsittami
tung boi hasea ho muse
i ale anak hasianku
tung burjuhon ma amang nasikkola i
bereng akka nahasea i
nasinuan tubu do nidapotnai
bereng au napuas paison nalea binaen ni pogoshi
jujung goarhi amang
iama so suda gogongki
sai sukaonku do pasikkolahon ho ale amang
molo hasea ho muse anggiat boi ho pangusandeanhi

Posted on Sabtu, Juni 07, 2014 by si suar sair

No comments

1 Juni 2014




Tepat 69 tahun lalu, Bung Karno mengucapkan kalimat tersebut dalam sidang I BPUPKI. Kalimat tersebut memuat kata "PANCASILA" yang menjadi dasar negara Indonesia. Sebuah kata luar biasa yang menjadi dasar negara Bangsa Indonesia. Atas latar belakang inilah mengapa 1 Juni ditetapkan sebagai Hari Lahirnya Pancasila.
Jika Anda mencari apa yang paling baik untuk dijadikan dasar negara?"
Maka dengan tegas saya menjawab, "Pancasila adalah yang Anda cari!"
Terbukti ketika Bung Karno memperkenalkan Pancasila dalam Sidang Kongres di Amerika Serikat, Bung Karno mendapat sambutan hangat dari para tokoh Amerika. Bahkan Bung Karno menawarkan Pancasila untuk diadopsi oleh berbagai Negara. Bisa diliha dari nilai-nilai yang dimiliki oleh Pancasila tersebut, Ketuhanan, Keadilan, Persatuan, Mufakat atau Demokrasi, hingga Kesejahteraan.
Ada satu nilai yang menjadikan Pancasila berbeda dan begitu spesial bila dibanding dengan dasar negara lainnya, yaitu Toleransi. Nilai ini terbukti mampu menyatukan seluruh rakyat Indonesia. Seperti yang Anda ketahui, Indonesia adalah negara dengan tingkat keanekaragaman yang paling tinggi dibanding negara lain. Indonesia mampu berdiri diatas perbedaan itu. Bila anda bukan orang Indonesia, Anda pasti akan bingung, heran dan merasa gila. Anda akan berpikir,
“Bagaimana mungkin orang yang berbeda suku bisa berjalan bersama?”.
“Bagaimana mungkin, orang yang berbeda agama bisa tidak saling membenci”.
Tapi itu tidak perlu anda bingungkan, lihat saja faktanya. Disini kami mampu hidup rukun, hidup bertetangga bahkan bekerja sama dalam satu tim tanpa mempersoalkan adanya perbedaan-perbedaan itu. Inilah yang menjadikan kami berbeda dengan negara lain.
Anda tidak Percaya?
Silahkan datang, Kami siap menyambut anda dengan toleransi kami…

Tapi jika Anda datang untuk mengganggu PANCASILA kami, jangan salahkan kami jika keramah tamahan kami berubah menjadi kemarahan yang luar biasa.
Karena Pancasila adalah Jiwa Kami...
Pancasila Harga MATI!!!



Salam…

Posted on Minggu, Juni 01, 2014 by si suar sair

No comments

12 Mei 2014

Pertama-tama ngucapin selamat malam dulu buat Yogya yang beberapa hari ini panas nya cukup membuat mahasiswa penghuni kos menjadi betah tinggal di perpustakaan. Selamat juga buat kawan saya yang beru melaunching his new blog tadi sore di perpustakaan.Semoga blognya diisi, jangan dibiarkan kosong seperti hati pemiliknya yang kosong.              
Kisah kali ini diambil dari kejadian yang baru saja terjadi, kira-kira 2 jam yang lalu. Saat itu, saya sedang makan di lesehan khas Jogja di Malioboro bersama seorang kawan. Kawan ini saya kenal di pelatihan BISMA dahulu dan merupakan mahasiswa di ITB. Kawan ini berkunjung ke Jogja dalam rangka kompetisi yang diadakan oleh ME, IKAMMA FEB UGM. Sebagai kawan yang baik dan menganut paham modal pergaulan, saya ajaklah kawan tersebut untuk sekadar berkeliling Jogja, khususnya Malioboro.  Setelah berkeliling sejenak dan merasa sedikit lapar. Kami pun singgah di sebuat warung makan lesehan yang berlaskan tikar di Timur Jalan Malioboro. Proses pemilihan tempat makan ini bukanlah hal yang mudah, sangat sulit karena menyangkut banyak pertimbangan khususnya yang berhubungan dengan kantong mahasiswa perantau.
Awal mulanya adalah ketika saya melihat salah seorang pedagang warung lesehan ini mengikat tali tenda ke pagar kantor pemerintahan di sekitar Jogja. Terlihat juga seorang satpam hitam-hitam didekatnya. Menit berselang, entah kenapa mereka tiba-tiba saling beradu mulut disertai dengan adu jotos bak atlet tarung drajat. Kejadian tetap berlangsung walaupun suasana warung lesehan ini cukup ramai.
                Yang saya sesalkan adalah mengapa kejadian ini terjadi di depan para wisatawan yang berada di Malioboro. Dan, disitu ada beberapa anak kecil yang menyaksikan kejadian yang tidak mendidik tersebut. Takutnya, akan berdampak buruk bagi mereka. Selain itu saya juga melihat ada beberapa keluarga wisatawan yang kebetulan makan, heran dan bingung melihat kejadian tersebut. Dari penampilannya sih, keluarga tersebut merupakan wisatawan yang sedang berkunjung menikmati Jogja. Tentu kejadian ini akan memberikan citra negatif kepada mereka. Bila mereka telah berulang kali ke Jogja dan melihat peristiwa tersebut mungkin mereka menganggap hal tersebut biasa karena telah mengetahui kota Jogja yang sebenarnya. Namun alangkah sialnya, jika mereka baru pertama kali datang ke Jogja dan langsung disuguhi kelakuan tidak menyenangkan tersebut. Ya, kesan pertama yang didapatkan adalah Jogja itu brutal, tidak cocoklah bila dijadikan kota wisata. Bisa jadi setelah mereka pulang ke asalnya, yang diberitahukan ke keluarganya, kerabatnya tentang Jogja bukanlah hal yang baik-baik, melainkan peristiwa yang tak baik tadi. Jogja jadi dicap sebagai kota yang tidak nyaman karena satu peristiwa itu. Saya kemudian teringat kisah setahun yang lalu, ketika kasus premanisme Jogja marak diberitakan di media televise. Imbasnya, saya sebagai perantau di Jogja, selalu ditanyakan oleh orang tua tentang Jogja, bagaimana perkembangannya diberi peringatan janga keluar-keluar malam. Kedua orang tua saya menganggap bahwa Jogja tidak aman lagi, padahal menurut saya, yang tinggal disini, Jogja tetaplah nyaman seperti biasanya. Tidak terganggu dengan berita-berita premanisme tersebut.

 Dan Jogja juga terkenal dengan tagline-nya yang mengatakan ’Jogja Berhati Nyaman.” Dikarenakan peristiwa semacam ini diplesetkan menjadi ”Jogja berhenti nyaman.”
                Sangat disesalkan memang bahwa hal sekecil ini dapat merusak citra Jogja. Padahal untuk membangun sebuah citra yang baik bukanlah hal yang mudah, perlu usaha keras dan komitmen dari semua pihak.  Biarlah Jogja tetap berhati nyaman. Nyaman bagi kami, warga asli dan nyaman bagimu, para pendatang.
Sebagai penutup, saya mengutip sebuah pepatah yang mengatakan, “Jangan Gara-gara Nila setitik, Rusak Susu Sebelanga.”

Matur Nuhun,

Jogja tetap Istimewa

Posted on Senin, Mei 12, 2014 by si suar sair

No comments

28 Desember 2013

            17 Agustus 1945 merupakan tanggal paling bersejarah bagi bangsa Indonesia. Ya, hari itulah tanggal dimana Indonesia merdeka. Sejak saat itulah Indonesia berhak meraih kendali penuh atas seluruh wilayah bagian negaranya. Sebelumnya, Indonesia telah bertahun-tahun dijajah oleh bangsa asing. Rakyat disiksa dan hidup sangat menderita akibat perilaku pera bangsa penjajah tersebut. Penjajahan di Indonesia dimulai dengan kedatangan bangsa Portugis ke pelabuhan-pelabuhan di pantai utara Jawa, setelah itu disusul dengan kedatangan bangsa Spanyol tahun 1521 di Tidore. Babak baru penjajahan Indonesia dimulai dengan kedatangan Belanda tahun 1619, pada saat itu VOC terbentuk dan menjadi sumber penderitaan bagi rakyat Indonesia. kemudian diakhiri dengan datangnya Jepan tahun 1942.
“Perjuanganku melawan penjajah lebih mudah, tidak seperti kalian nanti. Perjuangan kalian akan lebih berat karena melawan bangsa sendiri.”
Inilah pesan yang disampaikan Ir. Soekarno kepada rakyat Indonesia. Saat ini, Indonesia belum sepenuhnya merdeka. Memang penjajahan seperti puluhan tahun yang lalu tidak terjadi lagi. Namun, Indonesia masih memiliki beberapa masalah krusial yang bila tidak ditangani dan diselesaikan bisa memberi efek bola salju.
Intoleransi SARA.
Beberapa waktu lalu, media Indonesia gencar-gencarnya menghadirkan masalah intoleransi dalam kehidupan beragama. Media menjadikan hal ini sebagai headline. Pagi, siang, sore, hingga malam berbagai dialog interaktif dengan narasumber dari berbagai pihak dihadirkan silih berganti membahas permasalahan tersebut.
Sebenarnya masalah ini tidaklah perlu terjadi. Bila pemahaman konsep “Bhineka Tunggal Ika” yang merupakan semboyan Indonesia ditanamkan kedalam hati setiap masyarakat Indonesia. Tak bisa dipungkiri bahwa Indonesia dibangun diatas perbedaan-perbedaan tersebut. Banyak Negara berbondong-bondong meneliti kehidupan beragama di Indonesia. Ya, mereka iri sekaligus bingung dan heran bagaimana mungkin sesuatu yang berbeda bisa berjalan bersama? Berjalan tanpa ada gangguan. Hal ini tentu saja menjadi kebanggaan bagi bangsa Indonesia. Sebaiknya, Indonesia itu menyadari anugrah dalam perbedaan ini. Perbedaan ini menjadikan bangsa ini solid, tak terpecahkan.
 Dengan semboyan “Bhineka Tunggal Ika” yang melekat di hati masing-masing, masyarakat sebaiknya menyadari perbedaan yang terjadi merupakan sebuah anugrah yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Tak bisa dipungkiri bahwa Indonesia dibangun diatas perbedaan-perbedaan tersebut. Banyak Negara berbondong-bondong meneliti kehidupan beragama di Indonesia. ya, mereka iri dan heran bagaimana bisa sesuatu yang berbeda bisa berjalan bersama? Berjalan tanpa ada gangguan. Hal ini tentu saja menjadi kebanggaan bagi bangsa Indonesia. Penanaman nilai-nilai toleransi sebaiknya ditanamkan sejak dini, di bangku-bangku sekolah. Sehingga ketika ada permasalahan dapat diselesaikan dengan bijak, tidak hanya dari satu sisi saja.

Korupsi.
Menurut Kemdagri, 309 kepala daerah terlibat kasus 309 kepala daerah terlibat proses hukum terkait kasus korupsi, baik berstatus tersangka, terdakwa maupun terpidana. Di lain sisi, Sekertaris Jendral Transparency International Indonesia (TII), Dadang Sasongko mengatakan bahwa sektor kepolisian, kejaksaan, peradilan, dan bisnis menjadi sektor yang paling banyak dipersepsikan sebagai ladang korupsi. Ironi memang, pihak yang seharusnya menjadi penegak keadilan malah menjadi lahan subur bagi perkembangbiakan korupsi. Hal ini diperparah dengan ditangkapnya Aqil Muchtar, ketua Mahkamah Konstitusi yang dijadikan tersangka kasus  praktik politik transaksional dalam proses pemutusan sengketa pilkada Bupati Gunung Mas.
Korupsi merupakan bahaya laten bagi kehidupan bangsa Indonesia. Efek yang timbul akibat korupsi sangat parah. Biaya kesejahteraan masyarakat yang dikumpulkan dari pajak-pajak masyarakat malah digunakan untuk kepentingan mereka-mereka yang serakah akan harta-harta duniawi. Kekayaan yang melimpah ternyata tidak memberikan efek apa-apa bagi kemajuan dan kemandirian bangsa. Konon, pendapatan Negara bila dibagikan kepada rakyat, seluruh rakyat akan mendapat Rp 20 juta perbulan. Bisa dibayangkan efek positif dari pendapatan tersebut. Tidak ada lagi yang namnya busung lapar, pemadaman listrik bergilir, putusnya jalan yang berakibat terhambatnya pengiriman kekayaan alam baik dari maupun ke daerah. Selain itu, pendidikan yang merupakan salah satu cita-cita Negara sesuai Pembukaan Undang-undang Dasar 1945 tidak lah hanya sekadar 9 tahun saja. Dengan pendapatan tersebut, putra-putri Indonesia bisa memperoleh tingkat pendidikan sampai tingkat universitas. Dan pulang ke daerah untuk mengembangkan daerahnya masing-masing.
Namun hal itu tidak akan terjadi akibat keserakahan para pejabat yang melahap habis semua potensi kekayaan Indonesia. Potensi pendapatan Indonesia sebesar Rp 7.200 triliun hilang, raup ditelan para koruptor sampah tersebut. Teringat akan suatu kalimat dari Mahatma Gandhi, pemimpin spiritual India, yang mengatakan,“Bumi ini cukup untuk memenuhi kebutuhan kita semua, namun tidak cukup untuk memenuhi keinginan segelintir kecil manusia yang serakah,” Mereka, para koruptor inilah yahang disebut dengan segelintik kecil manusia yang serakah, yang tidak mengenal kata puas.
Perusakan Lingkungan
Kurangnya kesadaran terhadap pelestarian lingkungan merupakan salah satu penyebab kerusakan lingkungan. Sampah merupakan perusak lingkungan paling kecil. Banyak masyarakat tidak kunjung sadar akan bahaya sampah yang dibuang ke kali/sungai. Ketidakpedulian ini semakin menjadi dengan kurangnya peran pemerintah dalam sosialisasi penanganan sampah kepada masyarakat. Masyarakat menjadi sadar ketika bencana datang. Banjir yang datang menggenangi menyebabkan kerugian material bagi masyarakat, mulai dari harta sampai korban jiwa akibat terseret arus banjir.
Selain itu, perusakan hutan merupakan hal yang paling disayangkan untuk terjadi. Dalam kurun 12 tahun terakhir, bumi telah kehilangan 2,3 juta km2 wilayah hutannya. Diperperah dengan kerusakan hutan di Indonesia meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan dengan jumlah penggundulan hutan per tahun yang mencapai 20.000 kilometer pada 2011 dan 2012. Kerusakaan ini terhadi karena lebih memerhatikan kepentingan ekonomi dibanding kepentingan ekologi. Sebagai contoh, pembabatan hutan untuk pembukaan lahan baru guna ditanami sawit. Tak bisa dipungkiri memang berapa besar keuntungan yang diperoleh atas hasil panen sawit tersebut. Namun, bila dilihat dalam jangka panjang, kerugian justru lebih besar. Dampak yang paling terlihat adalah adanya potensi bencana. Banjir disaat musim hujan dan kekeringan saat musim kemarai menyebabkan penderitaan bagi masyarakat kecil.

Alangkah baiknya bila kita menyadari bahwa bumi ini diciptakan untuk kita titipkan ke anak cucu dengan kondisi yang baik. Kenapa malah menitipkan bencana bagi anak cucu. Sebaiknya pemerintah juga memperketat aturan mengenai hak pengelolaan hutan untuk menciptakan kondisi yang baik di masa kini maupun masa mendatang.

Esai ini disertakan untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh Karya Salemba Empat
A.A
 

Posted on Sabtu, Desember 28, 2013 by si suar sair

No comments

1 November 2012

Posted on Kamis, November 01, 2012 by si suar sair

No comments



Bhineka Tunggal Ika merupakan semboyan negara Indonesia. Arti dari semboyan ini adalah berbeda-beda tetapi tetap satu juga. Dalam arti lain bermakna kesatuan dalam keberagaman. Semboyan ini mencerminkan negara Indonesia yang terdiri dari berbagai suku dan agama yang terbentang dari Sabang sampai Merauke.

Posted on Kamis, November 01, 2012 by si suar sair

No comments

30 Oktober 2012


                                                                
Loyalitas dan Komitmen dalam Organisasi 

Loyalitas merupakan kesetiaan terhadap sesuatu baik itu dalam hal pekerjaan maupun organisasi. Sedangkan komitmen adalah sifat mau bertanggung jawab terhadap sesuatu yang telah dipilihnya.

Loyalitas para anggota sangat diperlukan dalam keberlangsungan kehidupan organisasi. Tertanamnya sifat loyalitas menjadikan anggota organisasi memiliki kesadaran sehingga dia akan mengerjakan pekerjaan nya dengan baik untuk organisasi tersebut. Sikap yang loyal tercermin dari perilakunya yang menghargai setiap keputusan di organisasi tersebut, sehingga dengan semaksimal mungkin dia akan menaati setiap peraturannya. Sikap loyalitas juga menjadikan setiap anggota dalam organisasi tersebut memiliki sifat kebersamaan dalam menjalankan kegiatannya. Seperti pepatah yang mengatakan “bersatu kita teguh bercerai kita runtuh.” Dengan adanya sifat kebersamaan itu maka semua pekerjaan dalam suatu organisasi akan dikerjakan dengan lebih efektif dan efisien.

Posted on Selasa, Oktober 30, 2012 by si suar sair

No comments