18 Agustus 2014


 
"Selamat datang Gamada, Selamat datang di kampus kerakyatan, Universitas Gadjah Mada…"

Kawan-kawan sudah menyandang predikat Maha, tetaplah berperilaku dalam idealisme dan  integritas tinggi. Tidak usah tiru senior-senior jenius kalian yang kini menyandang predikat “TAHANAN KPK.” 

Mengutip quotes Tan Malaka, “Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda.”  Kalau masih mahasiswa saja sudah melawan idealisme kalian, apalagi yang bisa kalian banggakan?
  
Pancasila Jiwa Kami,
Bakti untuk Negeri,
UGM bersatu,
Bangkitlah Nusantaraku

Salam.

Posted on Senin, Agustus 18, 2014 by si suar sair

No comments

17 Agustus 2014

“Selamat Dirgahayu Kemerdekaan Indonesia ke-69, Jayalah Indonesiaku.”
                Hari ini aku masih diberi kesempatan untuk merayakan Dirahayu Ke-69 negeriku tercinta. Sebagai mahasiswa yang tahun ini memasuki tingkat 3 dan dikelilingi oleh kawan-kawan dari kaum terpelajar menjadikan peringatan kemerdekaan tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Di tahun ini Aku punya mimpi. Mimpi dimana Indonesia adalah negara yang besar, disegani semua negara di dunia.
Menurutku  penghambat kemajuan Indonesia bukanlah dari rendahnya intelegensi rakyatnya. Berkali-kali aku membaca anak Indonesia menyabet medali emas di Olimpiade Internasional. Selain itu, diantara lulusan universitas ternama dunia, lulusan yang berasal dari Indonesia tidaklah sedikit. Menurutku penghambat utamanya adalah rendahnya integritas di kalangan kaum intelektual tersebut.  Baru kemarin ada berita yang menyebutkan Rektor USU, orang nomor 1 di tempat penggemblengan kaum terpelajar Indonesua, di periksa KPK terkait dugaan korupsi pengadaan gedung. Setahun lalu, Yang Mulia Hakim MK, orang yang sangat dihormati juga yang menjadi orang nomor 1 di bagian penegakan hukum, ditangkap KPK terkait kasus suap Pemilu.  Tak ayal, ada lelucon yang menyebutkan “Budaya Indonesia adalah Budaya Korupsi.”
Di mimpiku ini jelas tergambar dimana nantinya para pemuda berdiri diatas dan bekerja atas dasar integritas yang kuat. Dimana kepentingan umum adalah nomor 1. Tidak ada yang namanya korupsi dan segala macam tetek bengeknya.  Sebab menurutku , Indonesia ada bukanlah untuk diriku, namun ada untuk anak-cucu ku. Mewarisi Indonesia dalam keadaan baik adalah tanggung jawab kami, generasi muda Indonesia.
Salam.


Bagimu Negeri kami berjanji,
Bagimu Negeri, kami berbakti
Bagimu Negeri, kami mengabdi,
Padamu Negeri, jiwa raga kami.

Posted on Minggu, Agustus 17, 2014 by si suar sair

No comments

11 Agustus 2014

Detik berjalan,
Waktunya pun tiba
Mata dan jari beradu
Mencari dan memilih “nama-nama" itu
"Nama" yang kelak menjadi kehidupanku 1 semester ini

Berlomba dengan waktu
Berlomba dengan  orang lain
Demi “Nama” yang kami inginkan

5 menit berjalan,
Kuota habis
Angka 0 membanjiri,
Tak bisa berbuat apa-apa
Ada teriakan gembira
Ada juga makian

Untungnya,
Ada temanku, orang-orang hebat
Penuh kepedulian dan dedikasi tinggi
Yang siap menerima keluhanku
Bahkan menjadi sasaran amarahku
Mereka berjuang,
Melayani kami
Yang bukan siapa-siapa

Ya, itulah KRS ku
Selalu ada kesan disetiap kehadirannya.

Posted on Senin, Agustus 11, 2014 by si suar sair

No comments

2 Agustus 2014

Rumah sederhana itu 
Dia yang memberi tumpangan 
Memberi tempat untuk belajar 
Demi mewujudkan cita-cita 
Menjadi orang besar 
Yang berguna untuk bangsa 

Tapi, 
1 tahun sudah berlalu 
Aku belum pernah mengunjunginya lagi 
Bukan sombong, ataupun lupa 
Tapi keadaan yang membuat begini 

Rindu? Ya 
Rindu semua bagiannya 
Semua kenangannya 
Dan kebersamaan di dalamnya 

Entah bagaimana kedaannya sekarang 
Masihkan dia kokoh seperti dulu? 
Masihkah adakah lubang kecil didekat meja belajar? 
Atau sudah menjadi lubang yang besar?  

Ah, 
Bagaimanapun keadaanya sekarang 
Dia tetap rumahku 
Tempat perlindunganku 

Dan aku berjanji untuk datang kembali 


Tubu ma salaon, ditopi ambar Sihoru-horuJabu nauli ma jabuntaon, hatubuan ni anak dohot boru

 Tb ma salaon, ditopi ambar Sihorhor
Jab nali ma jabntaon, hatban ni anak dohot bor

Posted on Sabtu, Agustus 02, 2014 by si suar sair

No comments

1 Agustus 2014


The only rock I know that stays steady, the only institution I know that works is the family. ~ Lee Iacocca
Families are the compass that guide us. They are the inspiration to reach great heights, and our comfort when we occasionally falter. ~ Brad Henry 
         Tiga minggu sudah liburan ini berjalan, dan hari ini hari terakhir dimana aku bisa merasakan indahnya kekeluargaan itu.

       Walaupun bukan bersama Ayah dan Ibu, tapi aku masih bisa merasakan indahnya kebersamaan dalam sebuah keluarga.

Dan Hari esok menanti

Dia menunggu ku untuk pulang ke perantauan untuk memperjuangkan cita-cita yang akan kupersembahkan untuk keluarga ini.
Terimakasih Jakarta, terimakasih untuk kebersamaan ini.
       
       Dan Selamat datang Jogja, kota perjuangan.

       Senang kita bisa jumpa Lagi.

Posted on Jumat, Agustus 01, 2014 by si suar sair

No comments

8 Juli 2014


     

        Malam ini merupakan malam panjang dan menegangkan. Malam panjang karena esok pagi pesta demokrasi 5 tahunan akan dilangsungkan. Menegangkan karena malam ini banyak petugas yang tidak tidur untuk mengamankan persiapan untuk besok. Mulai dari pihak Kepolisian, TNI, petugas KPU, Bawaslu hingga masyarakat turut serta mensukseskan pesta ini.
Ada kisah menarik yang mewarnai malam seperti ini, yaitu kisah serangan fajar. Biasanya bila malam tiba, orang-orang akan menutup pintunya untuk  menghalau dinginnya si angin malam. Namun tidak demikian di negeri si Jaultop. Banyak orang membuka pintu lebar-lebar untuk menunggu datangnya tamu. Tamu disini adalah para Tim Sukses calon yang bertanding di Pemilu. Tamu ini akan bersilaturahmi dan berkampanye di pagi  hari menjelang pemungutan suara. Yang ditunggu-tunggu bukanlah si Tamu yang jualan dengan visi-misi calonnya, tapi sejumlah uang yang datang bersama si Tamu tersebut. Bagi sebagian kecil masyarakat di negeri itu, inilah berkah Pemilu. “Kami mah pinginnya yang nyata kayak gini mas, ada uang ada barang,” ujar tetangga Si Jaultop. Ya namanya, serangan fajar.
            Lain lagi cerita dari negari si Maruap. Kisah ini terjadi ketika pemilihan Walikota. Sang calon saat itu memberi voucher senilai Rp 300.000. Voucher ini akan baru bisa ditukarkan jika calon tersebut menang. Hasilnya si calon tersebut menang, ntah memang karena kemampuannya dan prestasinya yang bagus atau karena voucher tadi. Kemenangan ini awalnya diwarnai dengan sukacita dan harapan cairnya voucher itu. Ibu-ibu mulai berhitun berapa yang akan dikantongi. Bayangkan aja, dalam 1 keluarga biasanya memegang 3 voucher, dari Ayah, Ibu, dan 1 anak. Dan bila dikalikan bisa mengantongi Rp 900.000 dalam sekejap mata. Semua berandai-andai dan merencanakan akan dikemanakan uang tersebut. Tapi apa daya, bak pepatah habis manis sepah dibuang, sang walikota yang pernah berjanji tiba-tiba lupa. Yang kasihan ya si Tim Sukses, dikejar-kejar warga. Sekali lagi, habis manis sepah dibuang.
            2 kisah diatas hanyalah sebagian kecil dari kisah-kisah yang mewarnai Pesta demokrasi ini. Masih banyak kisah lain, yang kalau diceritakan pohon-pohon di hutan tidak akan mencukupi untuk dijadikan kertas. Huehuehue…
            “Semoga rakyat Indonesia sudah cerdas dalam memilih, gk perlulah itu money politics. Kejadian di negeri kami jangan sampai terulang di negeri Indonesia. Sayang kalau negara kalian itu rusak karena demokrasi yang gagal.” – Jaultop, warga biasa,  korban money politics


“Lebih baik menulis jadi sampah, dari pada tidak menulis karena akan jadi sampah dipikiran. Dan lebih baik jadi mahasiswa menulis jelek dari pada jadi mahasiswa jelek karena tidak menulis.”- Prof. Mubyarto, dengan sedikit pengubahan.

Posted on Selasa, Juli 08, 2014 by si suar sair

No comments

7 Juli 2014


Posted on Senin, Juli 07, 2014 by si suar sair

No comments