13 September 2016
7 Juli 2016
4 Juli 2016
25 April 2016
23 April 2016
Angin bawa kabar kasanaBawa beta pung pasan par dia disanaBilang beta pung rindu, bilang beta pung sayangBiar beta tapisah jauh ale ada di hati
Sepenggal lirik ini yang cukup menggambarkan rasa rindu kami
kepada mereka, adik-adik kami dari Desa Tohe, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Biar
pun jarak memisahkan kami dengan mereka, tapi mereka tetap dihati.
60 hari, senin sampai minggu, pagi sampai sore, mereka lah yang mengisi hari-hari kami. Mereka sukses membuat kami lupa akan hape dan media sosial.
Alin, apa kabar kalian?
KKN PPM UGM 2015
NTT - 03
Posted on Sabtu, April 23, 2016 by si suar sair
23 Januari 2016
Hei anak kota,Kapankah kau melihat ke atas dan menyapa dia yang menyinarimu dengan cahayanya?Sebelum dia datang, kau sudah pergi disibukkan dengan aktivitasmu dan baru selesai setelah pulangnya diaKau bersembunyi didalam kotak berbatu yang kau sebut dengan "kehidupan"Dan selalu saja seperti itu, hari demi hari
Posted on Sabtu, Januari 23, 2016 by si suar sair
27 Oktober 2015
Suatu ketika aku
bertanya tentang cita-cita kepada mereka. Dengan antusias mereka menjawab,
“Saa mau jadi tentara kaka”
“Saa pun cita-cita jadi pemain bola”
“Nanti saa mau jadi dokter kaka”
“Wih, mantap sekali e cita-cita kalian”, jawabku.
“Tapi ada satu pesan untuk kalian, nanti kalau kalian su besar dan sukses jangan lupa pulang kembali ke Haekesak ini. Kalian harus bisa bangun ini desa. Jangan sampai 10 tahun lagi kaka dong datang kesini, tapi itu jalan masih lubang-lubang, listrik masih pakai PLTA, listrik mati-telkomsel pun mati, mau mandi harus pii timba air dulu.”
“Kalian ingat to kita semua besar disini, sekolah disini, mandi di weibot, pii main bola juga disini, semuanya dari sini, jadi kita harus bisa bangun ini kita pun desa, oke?” tanyaku.
Mereka pun sepakat bilang, “Siap kaka!”
“Nanti saa jadi Bapa Desa,” tambah mereka.
Ya, semoga cita-cita mereka bisa tercapai dan mereka bisa membangun desa ini. Desa Haekesak, Kecamatan Raihat, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Sebuah desa di ujung batas Indonesia, desa yang indah namun minim fasilitas sosial. Desa yang kaya, tapi miskin. Tapi ini desa, tidak akan kulupakan.
Yogyakarta, 27 Oktober
2015
Posted on Selasa, Oktober 27, 2015 by si suar sair
Langganan:
Postingan (Atom)
SISUAR SAIR
“Lebih baik menulis jadi sampah, dari pada tidak menulis karena akan jadi sampah dipikiran. Dan lebih baik jadi mahasiswa menulis jelek dari pada jadi mahasiswa jelek karena tidak menulis.”
- Prof. Mubyarto
sisuarsair. Diberdayakan oleh Blogger.






