13 September 2016


Posted on Selasa, September 13, 2016 by si suar sair

No comments

7 Juli 2016



Jakal si pembelah jogja kutelusuri,
Pogung ke pandega kujelajahi
Kuningan, Klebengan, Karanggayam, Karangwuni tak kulupa
Tapi yang kudapat hanya kehampaan dan rasa lapar yang merajalela

Anak Kos Bulak Sumur, 8 Juli 2016



Posted on Kamis, Juli 07, 2016 by si suar sair

No comments

4 Juli 2016

jalan
jalan jalan
jalan jalan jalan
jangan jalan jalan
jangan jalan jangan
jangan jangan jangan
jangan jangan
jangan


Posted on Senin, Juli 04, 2016 by si suar sair

No comments

25 April 2016


Posted on Senin, April 25, 2016 by si suar sair

No comments

23 April 2016

Angin bawa kabar kasanaBawa beta pung pasan par dia disanaBilang beta pung rindu, bilang beta pung sayangBiar beta tapisah jauh ale ada di hati


Sepenggal lirik ini yang cukup menggambarkan rasa rindu kami kepada mereka, adik-adik kami dari Desa Tohe, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Biar pun jarak memisahkan kami dengan mereka, tapi mereka tetap dihati.

60 hari, senin sampai minggu, pagi sampai sore, mereka lah yang mengisi hari-hari kami. Mereka sukses membuat kami lupa akan hape dan media sosial.

Alin, apa kabar kalian?

KKN PPM UGM 2015
NTT - 03

Posted on Sabtu, April 23, 2016 by si suar sair

No comments

23 Januari 2016



Hei anak kota,
Kapankah kau melihat ke atas dan menyapa dia yang menyinarimu dengan cahayanya?
Sebelum dia datang, kau sudah pergi disibukkan dengan aktivitasmu dan baru selesai setelah pulangnya dia
Kau bersembunyi didalam kotak berbatu yang kau sebut dengan "kehidupan"
Dan selalu saja seperti itu, hari demi hari

Posted on Sabtu, Januari 23, 2016 by si suar sair

No comments

27 Oktober 2015


Suatu ketika aku bertanya tentang cita-cita kepada mereka. Dengan antusias mereka menjawab,
“Saa mau jadi tentara kaka”
“Saa pun cita-cita jadi pemain bola”
“Nanti saa mau jadi dokter kaka”
“Wih, mantap sekali e cita-cita kalian”, jawabku.
“Tapi ada satu pesan untuk kalian, nanti kalau kalian su besar dan sukses jangan lupa pulang kembali ke Haekesak ini. Kalian harus bisa bangun ini desa. Jangan sampai 10 tahun lagi kaka dong datang kesini, tapi itu jalan masih lubang-lubang, listrik masih pakai PLTA, listrik mati-telkomsel pun mati, mau mandi harus pii timba air dulu.”
“Kalian ingat to kita semua besar disini, sekolah disini, mandi di weibot, pii main bola juga disini, semuanya dari sini, jadi kita harus bisa bangun ini kita pun desa, oke?” tanyaku.

Mereka pun sepakat bilang, “Siap kaka!”
“Nanti saa jadi Bapa Desa,” tambah mereka.

Ya, semoga cita-cita mereka bisa tercapai dan mereka bisa membangun desa ini. Desa Haekesak, Kecamatan Raihat, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Sebuah desa di ujung batas Indonesia, desa yang indah namun minim fasilitas sosial. Desa yang kaya, tapi miskin. Tapi ini desa, tidak akan kulupakan.

Yogyakarta, 27 Oktober 2015

Posted on Selasa, Oktober 27, 2015 by si suar sair

No comments